Kediri – Keluarga besar Universitas Kadiri memperingati Peristiwa Gerakan 30 September 1965 sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang para korban yang gugur, khususnya para perwira TNI yang kemudian dikenal sebagai Pahlawan Revolusi, sekaligus memperkuat kesadaran sivitas akademika terhadap pentingnya persatuan, nilai kebangsaan, dan sikap kritis dalam memahami sejarah.
Peristiwa 30 September 1965 merupakan salah satu episode paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern. Pada dini hari 1 Oktober 1965, sekelompok pasukan yang menamakan diri Gerakan 30 September melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap sejumlah perwira Angkatan Darat. Peristiwa tersebut kemudian diikuti oleh pergolakan politik dan sosial yang sangat besar pada periode berikutnya. Kementerian Pertahanan
Mengenang Para Pahlawan Revolusi
Universitas Kadiri mengajak seluruh sivitas akademika untuk mengenang dan mendoakan para Pahlawan Revolusi yang gugur dalam rangkaian peristiwa tersebut.
Nama-nama yang secara resmi dikenang sebagai Pahlawan Revolusi antara lain Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Brigadir Jenderal D.I. Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal Soetojo S., serta Letnan Satu Czi P.A. Tendean. Peringatan terhadap mereka juga menjadi bagian dari tradisi kenegaraan dalam mengenang peristiwa 1965.
Semangat pengabdian, tanggung jawab, dan keberanian yang mereka tunjukkan menjadi nilai yang patut diwariskan kepada generasi muda, termasuk mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan.
Sejarah sebagai Ruang Belajar yang Kritis
Sebagai institusi pendidikan tinggi, Universitas Kadiri memandang sejarah bukan hanya sebagai kumpulan peristiwa masa lalu, tetapi sebagai ruang pembelajaran yang penting untuk membangun sikap kritis dan dewasa.
Kajian mengenai peristiwa 1965 memiliki beragam perspektif dan interpretasi dalam historiografi Indonesia. Karena itu, sivitas akademika perlu memahaminya dengan sikap ilmiah, terbuka terhadap sumber, dan tetap menghormati fakta sejarah serta pengalaman para korban. Sejumlah kajian akademik juga menegaskan bahwa peristiwa 1965 dan dampak setelahnya merupakan bagian sejarah yang kompleks dan perlu dipahami secara hati-hati. Garuda Kemdikbud
Pendekatan akademik seperti ini penting agar peringatan sejarah tidak berhenti pada seremoni, tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang mampu berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan menjaga persatuan bangsa.
Meneguhkan Nilai Kebangsaan dan Persatuan
Peringatan Peristiwa 30 September juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga persatuan, stabilitas sosial, serta nilai-nilai kebangsaan.
Bagi Universitas Kadiri, nilai persatuan, integritas, tanggung jawab, dan kepedulian sosial harus terus ditanamkan dalam kehidupan kampus. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kesadaran sejarah dan kebangsaan yang kuat.
Dengan memahami sejarah, generasi muda diharapkan dapat mengambil pelajaran agar konflik, kekerasan, dan perpecahan yang pernah terjadi tidak kembali terulang.
Refleksi bagi Sivitas Akademika
Momentum ini menjadi waktu yang tepat untuk berhenti sejenak, merenung, dan mensyukuri kedamaian yang dapat dinikmati saat ini.
Universitas Kadiri mengajak seluruh sivitas akademika untuk menjadikan peringatan ini sebagai sarana memperkuat komitmen dalam menjaga persatuan, menghargai jasa para pendahulu, dan terus berkontribusi bagi kemajuan bangsa melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Semangat pengabdian para Pahlawan Revolusi hendaknya terus hidup dalam setiap langkah sivitas akademika untuk membangun Indonesia yang lebih damai, berkeadilan, dan bermartabat.